Menjadi seorang ibu baru membawa kebahagiaan yang sangat bagi seorang wanita. Namun bersama dengan kebahagiaan itu, muncul pula beban dan tanggungjawab berat yang harus selalu dianggap serius. Kadangkala, kita sangat tidak peka terhadap teman kita yang baru saja menjadi ibu muda. Kita menanyakan berbagai hal yang malah mengganggunya. Apa saja pertanyaan-pertanyaan yang tak boleh kita ajukan kepada seorang ibu baru?
“Apakah dia sudah tidur semalaman?”
Pertanyaan inosen seperti ini ternyata bisa jadi berbahaya. Seorang ibu baru mendengar ini berkali-kali setiap harinya. Terutama jika bayi tersebut baru berusia beberapa hari atau minggu, pertanyaan ini tidak peka. Hanya ada 1% bayi berusia beberapa minggu yang tidur semalaman. Sisanya, akan selalu bangun dan terjaga selama beberapa bulan pertama, bahkan ada yang hingga setahun. Pertanyaan ini, selain mengganggu, juga bisa membuat sang ibu muda merasa gagal karena bayinya seolah tidak tenang.
“Kapan kamu kembali bekerja?”
Cuti hamil di negara kita bisa dibilang payah. Sebagian besar ibu harus segera kembali bekerja jauh lebih awal dari keinginan mereka. Sedangkan, ibu yang memutuskan untuk sementara berhenti bekerja dan mengurusi buah hatinya jelas mengambil keputusan itu dengan rasa khawatir kebutuhan finansial keluarga akan berantakan atau apakah mereka akan bisa mengejar kembali karir itu nantinya. Pahamilah perasaan mereka. Jangan membuat mereka semakin banyak pikiran.
“Kok digendong terus? Nggak ditaruh saja dibiarkan di kasur?”
Banyak orang yang tidak sabar agar bayi yang baru lahir segera bisqa mandiri dengan cepat. Padahal, tidak demikian dengan rencana sang bayi. Beberapa bayi bisa cukup gembira berayun di keranjang atau ayunan. Yang lainnya akan menangis jika diletakkan. Alasannya? Karena selama sembilan bulan mereka dibalut keamanan di dalam rahim sehingga mereka butuh waktu untuk mandiri. Pada akhirnya nanti setiap bayi akan bisa ditinggal. Dan setiap ibu memang ingin beristirahat dan berharap bayinya tidak menangis jika diletakkan. Jika kamu sungguhan peduli, tawarkan untuk menggendongnya. Jika ia menangis, lebih baik kamu menjaga komentarmu.
“Aku lagi sakit tapi nggak menular kok, boleh kan lihat bayi kamu?”
Bahkan jika mungkin penyakitmu tidak menular, namun setiap ibu baru pasti akan khawatir mendengar ini. Bahkan seandainya ada ibu muda yang bilang iya karena merasa tidak enak, selama beberapa hari setelahnya ia akan bertanya-tanya apakah bersin dan batuk bayinya adalah gejala penyakit berbahaya.
“Jangan-jangan dia lapar?” atau “Memang dia lapar lagi? Yakin?”
Ada banyak sekali teori menyusui bayi yang berbeda-eda diluar sana. Ada yang bilang berikan bayi susu setiap kali dia meminta. Ada yang menyarankan dibuat jadwal. Ada banyak lainnya. Namun, yang pasti, hampir tak ada ibu yang akan membuat bayinya kelaparan, atau memberi makan terlalu banyak. Jadi biarlah sang ibu mengurusi anaknya dan kebiasaan makan mereka. Jangan ikut campur.
“Ini bayinya nakal, nggak?”
Jika kamu pernah menanyakan hal ini, kamu keterlaluan. Tidak ada seorang bayi yang nakal karena bayi bahkan masih belum punya agensinya sendiri. Ia masih belum memiliki justifikasi moral untuk masuk dalam penghakiman kita. Bayi yang menangis 24 jam adalah bayi yang baik. Bayi yang hanya tidur jika dipeluk adalah bayi yang baik. Bayi yang mau dipegang orang asing pun bayi yang baik. Setiap ibu menyayangi bayinya dan setiap bayi adalah anugerah bagi ibunya.
Facebook Comments