Keputusan untuk memiliki anak adalah sebuah keputusan yang cukup berat. Banyak sekali pertimbangan yang harus diperhatikan, mulai dari kesiapan pasangan suami istri dalam segi finansial, maupun psikis. Nah, masalah psikologis seperti harga diri, karier, dan bahkan masalah antara pasangan dapat sangat memengaruhi bayi yang baru lahir. Jadi, sangatlah penting untuk menghadapi semua masalah ini sebelum kamu memiliki anak.
Berikut beberapa masalah psikologis yang wajib ditangani sebelum kamu memutuskan untuk menjadi orang tua :
- Kamu sudah punya anak, tapi kamu masih menginginkan lebih
Seorang wanita menceritakan detail tentang kecanduan bayi. Dia sudah memiliki 5 anak dan mengerti bahwa dia terlalu tua untuk melahirkan anak baru, tapi tidak bisa berhenti memikirkannya. Ternyata keinginan untuk mengisi kekosongan batin dan kehilangan masa kecil bisa menjadi alasan utama mengapa wanita menginginkan banyak anak atau ketagihan memiliki bayi. Menginginkan lebih banyak anak tidak selalu baik dan ini bisa menjadi masalah yang perlu ditangani dengan bantuan spesialis.
- Kamu berharap kehadiran bayi akan menyelamatkan hubungan kamu

67% pasangan melaporkan penurunan kepuasan hubungan setelah melahirkan anak pertama mereka. Penurunan biasanya terjadi antara 6 bulan setelah bayi muncul untuk wanita dan 9 bulan setelah bayi muncul untuk pria. Jadi, jika kamu berencana menyelamatkan pernikahan dengan memiliki anak, itu bukan ide yang bagus.
- Karier kamu adalah prioritas utama
Kecanduan kerja bagi orang tua akan berdampak negatif tidak hanya kepada orang tua itu sendiri, tetapi juga anak-anak mereka. Anak-anak biasanya menjadi terabaikan secara emosional dan anak akan merasa “tidak terlihat” atau tidak dianggap. Akibatnya, anak bisa mulai memiliki harga diri yang rendah.
- Kamu tidak puas dengan hidup kamu sendiri

Menurut Michigan State University, anak-anak belajar dengan meniru orang tua mereka. Ini berarti bahwa anak kamu akan sama seperti kamu. Jadi penting bagi kamu untuk selalu tampil percaya diri di hadapan anak. Jika tidak, mereka mungkin akan meniru sikap negatif kamu atau meniru ketidakpastian kamu dalam menjalani hidup. Hal ini akan menghambat anak meraih cita-citanya.
- Kamu sendiri masih merasa seperti anak kecil
Psikolog bahkan memiliki istilah khusus yaitu “infantilisme”, yang menggambarkan seseorang yang berperilaku seperti anak kecil bahkan setelah ia dewasa. Orang-orang ini cenderung dikuasai oleh emosi, dan bukan oleh logika. Menjadi orang tua membutuhkan ketahanan dan pengendalian diri, dan anak-anak cenderung meniru perilaku orang-orang di sekitar mereka. Untuk itu, anak memerlukan contoh dari orang tua yang stabil secara emosional.
- Kamu mengalami gangguan kecemasan dan stres
Studi mengungkapkan bahwa emosi negatif orang tua dapat mempengaruhi perkembangan anak. Para ahli percaya bahwa pengaruh yang sangat kuat terjadi pada tahun pertama kehidupan bayi. Akibatnya, ada kemungkinan anak-anak akan memperoleh perilaku negatif dan mood negatif dari orang tua mereka. Sebenarnya aturan ini cukup sederhana. Jika kamu nyaman dan bahagia dengan hidupmu, anakmu pun akan demikian. Jika sebaliknya, maka yang terjadi juga sebaliknya.
Baca Juga :
https://www.tampilcantik.com/alasan-mengapa-anak-yang-lebih-tua-tidak-boleh-mengasuh-adiknya/
https://www.tampilcantik.com/perubahan-peran-dalam-hubungan-ibu-dan-anak-seiring-berjalannya-waktu/
https://www.tampilcantik.com/6-tips-menghukum-anak-tanpa-merusak-harga-diri-mereka/
Facebook Comments